Makassar Trip 2016

Makassar menjadi salah satu destinasi yang ingin saya kunjungi karena memang banyak wisatanya yang bagus dan Ica sudah kesana. Alamarhum juga banyak cerita tentang aneka makanan yang biasa dia makan saat dinas ke Makassar.

Planning jalan-jalan ke Makassar akhirnya dibuat  karena adanya Asti yang sejak Oktober ditugaskan di Citylink Makassar. Kebetulan Sabtu, 3 Des dia ulang tahun sehingga saya dan Ryan memplotnya di waktu tersebut. Ryan yang book tiket Citylink dan Fave Hotel Aston …. Cari penerbangan paling pagi biar sampai sana cukup waktu untuk jalan-jalan.

Sabtu, 3 Desember 2016.

Jam 04 subuh (adzan belum berkumandang loh) sudah di taksi karena jadwal Citylink jam 05.55. Alhamdulillah lalu lintas lancar. Sampai Terminal 1C ternyata antrian masuk cukup panjang, nampak sebagian  besar adalah mereka yang ikut Demo Damai  212 dilihat dari pakaiannya yang bersorban dan berkopiah bahkan ada yang bersarung.

Ryan memutuskan untuk self check-in saat melihat antrian yang cukup panjang, kebetulan  memang  tidak ada bagasi. Selesai self check-in, langsung menuju Gate 2C untuk sholat Subuh sebelum boarding.

Jakarta – Makassar ditempuh selama 2 jam 20 menit dan Makassar lebih cepat 1 jam sehingga kami mendarat pukul 9.25. Alhamdulillah mendarat dengan selamat dan tepat waktu, langsung ketemu Asti.

Happy birthday Asti …

1

 

Rute pertama adalah mencari sarapan coto sambil menuju arah Bantimurung sesuai itinerary. Lokasi coto yg dituju ternyata terlewat sehingga diganti dengan Sop Saudara yang kebetulan ditemui. Pas turun mobil, hujan pun turun sehingga kami harus menunggunya reda.

Ryan sempet ambil foto warung tempat kami makan dan membuat kami tersenyum-senyum karena disitu ada tulisan “Play Oper” yang menggantikan kata “Fly Over” .. wkwkwk

Dari tempat sarapan, tujuan berikutnya adalah Bantimurung Water Fall dimana via Gòogle Maps ternyata bukan rutenya.  Lokasi wisata terdekat yang bisa dikunjungi adalah Rammang-Rammang  yang dari kejauhan memang sudah terlihat keindahannya berupa gunung-gunung bebatuan dengan ketinggian yang berbeda-beda. Menarik, sekilas seperti di Phiphi Island. Diputuskan untuk balik arah ke Rammang-Rammang  karena gambar di Google emang ‘epic’ (pinjem kata-kata Ryan) banget.

Sempet bingung karena ada petunjuk arah yang membingungkan, yang satu menunjukkan bahwa Dermaga hanya 50 m di depan sementara satunya menunjukan bahwa Dermaga  masih 2 km. Akhirnya diputusin ambil yang 2 km dan tenyata memang amazing banget pemandangannya … ada bebatuan hitam yg epic banget .. luar biasa …. Masya Allah …. (sayang diluar hujan jadi gak sempet foto-foto sepanjang jalan yang benyak bebatuan unik berwarna hitam).

4

Akhirnya ternyata kami sampai pada satu area parkir mobil  Dermaga 2. Sepakat sewa perahu untuk keliling area seharga Rp. 200.000.

Agak kurang menggembirakan karena  hujan rintik-rintik. Tapi pemandangannya memang bagus sehingga rintik hujan terkalahkan dengan topi sebagai pengaman. Kami  menyewa topi seharga 5 ribu rupiah.

Perahu membawa kami menyusuri sungai yang kanan kirinya bukit2 bebatuàn. Amazing .. Kami berhenti di satu lokasi untuk photoshoot.

Selesai photoshoot kami naik perahu kembali dan diajak oleh pengemudi perahu ke salah satu cafe di tengah sungai … kamipun makan siang dengan memesan Milo panas, ubi goreng dan pisang keju.

Hehehe disini yang namanya ubi itu ternyata ubi kayu alias singkong.

12

Di cafe ini pun ada penginapan yang bisa disewa.

Gerimis berhenti dan Ryan sempat memainkan drone-nya untuk mendapatkan obyek menarik yang ada di Rammang-Rammang. Alhamdulillah gak penasaran lagi.

Selesai wisata Rammang-Rammang kami  lanjut ke Bantimurung National Park. Disana ada penangkaran kupu-kupu dan air terjun.  Indah dan amazing …

Puas berada di air terjun, kami menyempatkan sholat Dzuhur dan Ashar di masjid yang ada di area wisata. Lanjut ke arah Makassar untuk melihat sunset di Pantai Losari.

Perjalanan ke arah pantai Losari ternyata macet karena ada perbaikan jalan  sehingga kami kehilangan moment sun set. Kamipun kelaparan dan terdamparlah di Mie Titi karena promosi teman-teman untuk wajib makan disini. Kami hanya memesan Mie Titi, bihun rebus dan nasi goreng merah. Lumayan yummi ….

17

Selesai makan malam di Mie Titi kami langsungg check in Fave Hotel Aston Daeng Tompo di sekitar Losari. Saya langsung tidur sementara Ryan dan Asti masih mau jalan-jalan.

Minggu, 4 Desember 2016

Sarapan di hotel kurang berselera karena Ryan pengin nyoba  aneka makanan khas Makassar yang ada di pantai Losari. Kamipun langsung check out dan langsung jalan menuju pantai Losari.

Tempat makan yang dituju Ryan ada di tikungan, namanya Rumah Makan dan Cafe 999 – Jl. Sumba Opu no. 271.

Sambil nunggu makan tersedia, saya dan Ryan jalan ke pantai Losari untuk foto-foto.

Tidak banyak makanan yang dipesan, hanya ikan bolu, sate sapi dan coto Makassar. Disajikan juga buras yang rasanya enak.

20

Selesai sarapan kami beranjak ke Dermaga untuk mencari perahu yang dapat membawa kami menuju Pulau Samalona (rencananya juga ke Pulau Keke). Mobil harus berputar-putar karena beberapa jalan utama ditutup untuk Car Free Day. Saat parkir di sekitar Dermaga kami sudah ditawari perahu boat.  Ryan dan Asti yang bernegosiasi. Deal untuk sewa perahu seharga Rp. 400.000.

Dermaganya ternyata kecil, mirip dermaga Angke, kurang ada fasilitas untuk naik turun penumpang dari dan ke perahu. Perahupun start menuju laut. Perjuangan belum selesai … ternyata ombak lumayan tinggi sehingga perahu kamipun terbanting-banting dan cipratan air laut sesekali membasahi kami …. perjalanan relatif jadi menegangkan walaupun hanya setengah jam …. Tukang perahu meyakinkan perjalanan ini akan aman, sudah biasa katanya …

Alhamdulillah sampai juga kami di Pulau Samalona (dan diputuskan hanya di Samalona saja, tidak lanjut ke pulau Keke mengingat perjalanan yang menegangkan tadi).

Saya duduk tenang di perahu sambil menikmati jernihnya air laut dimana dasar laut dapat terlihat  dengan jelas. Ryan dan Asti turun ke pulau untuk menyewa perlengkapan snorkling. Ada 6 perahu yang sama  sedang bersandar. Beberapa sedang memuat penumpang yang mau snorkeling.

21.jpg

Ryan dan Asti muncul dengan membawa perlengkapan snorkeling dan gopro. Mereka kena charge sebesar Rp. 280.000 dengan rincian Rp. 250.000 untuk perlengkapan snorkling dan gopro serta Rp. 30.000 untuk tangga kayu yang dipakai saat turun – naik perahu di tengah laut.

22

Kamipun ke tengah laut untuk mencari spot snorkeling. Ada setengah jam-an mereka menyelam dan sayapun hanya menungguinya di atas perahu.

23.jpg

Selesai snorkeling kamipun mendarat lagi di Pulau Samalona untuk bersih-bersih … Surprisingly karena untuk mandi kami kena charge sepuluh ribu, buang air kecil lima ribu dan duduk di bangku kayu lima puluh ribu …. wkwkwk bisnis yang lumayan.

Ryan penasaran mau shooting dengan drone. Alhamdulillah udara mendukung. Sebelum kembali ke perahu, kami menyempatkan diri untuk photoshoot di pantai Samalona ..

Saat meninggalkan pulau Samalona tiba-tiba hujan turun .. penduduk mengatakan kalau hujan ombak akan reda jadi perahu malah aman jika dijalankan.  Okelah kamipun bergerimis ria saat menaiki perahu. Namun, ternyata apa yang dikatakan penduduk tadi tidak terbukti …. Ombak tetap tinggi dan cipratan air laut lumayan cukup mengguyur kami …. Alhamdulillah waktu pulang rasanya lebih cepat dari saat berangkat dan kamipun selamat sampai di dermaga kembali.

Sebelum lanjut lagi, saya lihat ada toko oleh-oleh Toraja yang menjual aneka makanan dan souvenir khas Makassar. Kamipun belanja  dahulu beberapa makanan untuk oleh-oleh  di kantor.

Makan siang hari ini diisi dengan Konro Karebosi yang terletak di Jl. G. Lompobattang  untuk memenuhi penasaran Ryan dengan konro bakar dan konro kuah. Restorantnya punya aroma bau daging mentah sejenis aroma ‘bandot’ sehingga membuat kurang nyaman.

26.jpg

Masih ada waktu Dzuhur kamipun menyempatkan sholat di masjid apung sesuai rekomendasi teman-teman. Masjidnya bagus, bersih.  Konsepnya seperti masjid apung di Jeddah.

27

Masih cukup waktu, tidak mau kehilangan icon Makassar lainnya.

28

Dari masjid, waktu masih cukup panjang sebelum ke  bandara sehingga kami menghabiskan waktu sore hari dengan mengunjungi destinasi wisata terakhir yaitu Benteng Rotterdam.

Lokasi ini tidak terlalu menarik. Puas disana Ryan masih penasaran mau sop Pallubasa Serigala.  Hehehhe … disamperin deh. Masih ada 29 menit sebelum waktu untuk jalan ke bandara. Ternyata sejenis soto daging dengan tambahan  kuning telor setengah matang.

Menyempatkan diri untuk merasakan cake ultah Asti yang dipesan Ryan :

33

Selesai makan Pallubasa, kami harus segera ke Bandara untuk pulang. Masih ada satu kuliner yang belum dicoba yaitu Bakso Ati Raja.  Biar gak penasaran terpaksalah sambil nunggu  boarding kamipun makan dengan  memesan 1 bakso goreng dan satu bakso kuah. Rasanya ???  Kalah kalo dibanding dengan Bakso Haji Sony Lampung ataupun Bakso Tembak Senayan ….

34

Boarding jam 19.15 untuk take off jam 19.45. Masih cukup waktu maka kamipun sholat Isya. Selesai sholat sudah terdengar panggilan boarding sehingga kamipun menuju Gate 3. Asti mengantar kami sampai duduk di pesawat. Saat take off selesai, kami dikejutkan dengan adanya complimentary dari Pramugari berupa dua makanan masing-masing spaghetti dan nasi empal. Alhamdulilllah ….. makasih Asti.

Alhamdulillah …. landing dengan selamat di Terminal 1 C. Ryan menyarankan untuk mencoba naik bis Damri biar agak hemat. Hehehe … OK lah mumpung ada Ryan sambil belajar cari tahu jalannya kalau naik Damri. Ternyata lumayan OK, nyaman dan hemat ….

Terima kasih Asti untuk waktunya …..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s